EKONOMIAKTUAL.COM – Upaya mempercepat arus barang impor di Terminal Petikemas Surabaya (TPS) terus ditingkatkan melalui sinergi antara pelaku usaha, Bea Cukai, Karantina, serta pengelola terminal. Salah satu langkah strategis yang didorong adalah pemanfaatan teknologi X-ray container guna mempercepat proses pemeriksaan sekaligus menekan waktu tinggal kontainer (dwell time) di pelabuhan.
Hal tersebut mengemuka dalam acara Sosialisasi Bisnis Proses Operasional PT Terminal Petikemas Surabaya dan Sinergitas Layanan Kepabeanan-Karantina yang diselenggarakan oleh Badan Pengurus Daerah Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (BPD GINSI) Jawa Timur di Kantor TPS, Surabaya, Kamis (10/9/2026). Forum ini dihadiri lebih dari 100 importir anggota GINSI Jawa Timur.
Ketua GINSI Jawa Timur, Hana Belladina, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk memperlancar arus barang logistik.
“Diperlukan sinergi yang kuat antara GINSI sebagai representasi pelaku usaha, Bea Cukai, Balai Karantina, PT TPS, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya,” kata Hana. Ia berharap kolaborasi ini menciptakan layanan yang efisien, terukur, transparan, dan memberikan kepastian bagi para pelaku usaha.
Dukungan Bea Cukai dan Investasi Alat Modern TPS
Kepala Kantor Bea Cukai Tanjung Perak, Agus Cahyono, menjelaskan bahwa pemanfaatan X-ray container yang dipadukan dengan Artificial Intelligence (AI) diterapkan untuk meningkatkan transparansi pengawasan dan efektivitas pelayanan. Pemeriksaan X-ray dilakukan secara selektif pada jalur merah serta di area gate untuk jalur hijau.
“Kalau barangnya kedapatan anomali, tidak sesuai, kasat mata, kelihatan dari mata X-ray, kita tindak,” tegas Agus, sembari mengingatkan pentingnya kepatuhan importir dalam menyajikan dokumen serta HS Code yang akurat.
Dari sudut pandang pengelola terminal, Direktur Operasi PT TPS, Noor Budiwan, menyampaikan bahwa penggunaan X-ray mampu mengurangi penumpukan fisik kontainer sehingga menurunkan port stay dan cargo stay, yang berimbas langsung pada efisiensi biaya importir.
Untuk mendukung percepatan operasional, TPS juga menambah 14 unit electric Rubber Tyred Gantry (e-RTG) dan 4 unit Container Crane (CC) baru. “Ukuran kesuksesan kita sebagai terminal itu pasti dari percepatan. Percepatan itu otomatis dilakukan oleh alat bongkar muat,” ujar Noor.
Peran Karantina dalam Ekosistem Pelabuhan
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Karantina Tumbuhan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur, Masanto, menyebutkan bahwa pemanfaatan X-ray di sektor karantina berfungsi utama untuk memindai keseragaman media pembawa barang.
Meski demikian, pemeriksaan fisik atau uji laboratorium tetap dilakukan untuk memastikan kebebasan komoditas dari hama dan penyakit tanaman maupun hewan. Tanpa uji laboratorium khusus, proses pemeriksaan fisik karantina umumnya dapat diselesaikan dalam kurun waktu satu hari.
Sinergi berkelanjutan antara GINSI, Bea Cukai, Karantina, dan TPS ini diharapkan mampu mewujudkan ekosistem logistik Jawa Timur yang responsif, patuh hukum, serta berdaya saing tinggi. (EUQ)













