EKONOMIAKTUAL.COM – Di balik sebatang cokelat yang manis, tersimpan perjalanan panjang yang melibatkan keringat petani, kecanggihan teknologi, hingga narasi sejarah. Brand lokal asal Mojokerto, Cokelat Mojopahit, kini menjadi sorotan karena keberhasilannya mengintegrasikan ekosistem cokelat dari hulu hingga ke hilir.
Berbeda dengan bisnis camilan pada umumnya yang bermula dari dapur, Cokelat Mojopahit lahir dari akar pariwisata. CTO Cokelat Mojopahit, Alif Wahyu Dewa, mengungkapkan bahwa bisnis ini merupakan pengembangan dari wisata desa keluarga yang sudah berdiri sejak 2004.
“Awalnya kami punya wisata desa. Dari situ, kami melihat kakao punya potensi besar. Sayang jika hanya dijual mentah karena nilainya rendah,” ujar Alif dalam podcast Cerita Bersama Brand Lokal di kanal YouTube JNE_ID.
Dari Pemberdayaan Petani Hingga Identitas Sejarah
Melihat potensi tersebut, keluarga Alif mulai menggandeng petani lokal untuk membudidayakan kakao. Langkah ini berhasil mengubah lanskap ekonomi desa, di mana para petani mulai beralih menanam kakao dan menciptakan ekosistem desa berbasis komoditas.
Pada tahun 2018, mereka mulai melangkah ke industri pengolahan. Nama “Mojopahit” dipilih bukan tanpa alasan. Nama besar Kerajaan Majapahit yang berpusat di Mojokerto dianggap sebagai identitas kuat yang memudahkan produk mereka dikenal sekaligus membawa misi edukasi sejarah.
Keunggulan Cokelat Couverture (Premium)
Cokelat Mojopahit membedakan diri dengan fokus pada jenis couverture, kategori cokelat premium yang menggunakan lemak kakao asli. Di tengah pasar yang didominasi cokelat imitasi atau compound yang tinggi gula, Cokelat Mojopahit konsisten menjaga kualitas.
“Selama ini masyarakat banyak mengonsumsi cokelat imitasi. Padahal couverture bahan utamanya benar-benar dari kakao,” tegas Alif.
Proses produksinya pun tidak main-main. Untuk menghasilkan kualitas terbaik, biji kakao harus melewati tahap fermentasi selama lima hari, pengeringan, hingga sortasi ketat sebelum diolah menjadi pasta.
Edukasi dan Inovasi Wisata
Tantangan terbesar bagi brand ini adalah stigma bahwa cokelat tidak sehat. Untuk mematahkan hal tersebut, Cokelat Mojopahit mengusung konsep Wisata Edukasi. Pengunjung tidak hanya sekadar membeli, tetapi bisa melihat langsung proses produksi bahkan belajar membuat cokelat sendiri.
Selain itu, inovasi produk terus dilakukan agar sesuai dengan lidah masyarakat Indonesia yang gemar mengonsumsi makanan ringan (snack).
Menjawab Tantangan Hilirisasi dengan Logistik Terpercaya
Alif menyayangkan fakta bahwa biji kakao terbaik Indonesia seringkali lebih banyak dinikmati oleh pasar luar negeri. Melalui Cokelat Mojopahit, ia ingin masyarakat lokal bisa merasakan kualitas cokelat dunia di tanah sendiri.
Untuk menjangkau pasar yang lebih luas di luar Mojokerto, Cokelat Mojopahit mempercayakan urusan distribusi kepada JNE. Pemilihan ini bermula dari permintaan pelanggan yang menginginkan keamanan dan ketepatan waktu pengiriman.
“Justru awalnya ada customer yang minta dikirim lewat JNE karena aman dan layanannya baik, maka berlanjut hingga saat ini,” pungkas Alif.
Dengan semangat menjaga kualitas dari kebun hingga ke tangan konsumen, Cokelat Mojopahit membuktikan bahwa brand lokal mampu bersaing sekaligus membawa nilai sejarah dalam setiap gigitannya. (GRF)













